Petarung sejati tidak pernah dilahirkan, tapi diciptakan. Kadang saya gerah dengan begitu banyaknya promosi yang tidak masuk akal, mencoba membawa costumer pada nuansa yang serba instant. Pada gulirannya bukannya memberikan pendidikan tapi justru menjerumuskan.

Seiring menjamurnya banyak pelatihan bisnis, saya juga kadang heran, banyak yang terjebak karena tidak melihat kebutuhan dan latar belakang mentor itu sendiri. Tidak salah memang, bahwa cara cepat menjadi ahli itu dengan pelatihan yang mumpuni. Tapi jika sekedar ingin lari dari satu bisnis ke kebisnis lain dengan harapan dapat uang banyak dengan mudah, itu bukan solusi. Harusnya sebuah pelatihan bukan mendidikan mental instant, tapi bagaimana mampu menjembatani kebuntuan semangat dan berpikir. Sehingga nantinya lahir sosok yang siap berjuang menghadang segala kendala.

Entah berapa ratus keluhan yang pernah saya terima baik via email, sms, atau datang langsung yang mengeluhkan kondisi yang tidak beranjak padahal pernah datang ke sebuah pelatihan menulis dengan biaya cukup mahal. Sebagian bahkan meresa tertipu ternyata sebagian besar bimbingan itu hanya sekedar memotivasi tanpa ada teori yang dapat dipraktekkan secara berkesinambungan. Uang, waktu dan tenaga terbuang begitu saja.

Setidaknya dua hal yang harus diperhatikan sebelum Anda memutuskan mengikuti sebuah pelatihan menulis atau bisnis penerbitan:

Pertama, Mentor atau pemateri. Saya perhatikan para mentor yang mengaku penulis buku best seller lantas berkoar-koar sebagai penulis luar biasa. Padahal buku yang ditulisanya hanya beberapa buku dan best seller pun ukurannya tidak jelas. Apalagi terkait dengan bisnis penerbitan, lihatlah apakah memang seorang praktisi penerbitan. Bagaimana dengan buku-bukunya apakah sudah dikenal banyak orang. Tak sedikit yang mengaku mentor penerbitan padahal usaha penerbitan pun baru didirikannya.

Kedua, Biaya pelatihan. Kita sering mendengar istilah ‘investasi’ untuk sebuah pelatihan, sejatinya investasi adalah sesuatu yang secara praktis dapat menghasilkan target yang diinginkan. Pemakaian istilah itulah sering menterjebak seolah apa yang dihasilkan dari pelatihan itu serta merta menghasilkan uang misalnya.

Padahal sekedar mendorong orang untuk bisa menulis sebenarnya tidak harus ada pelatihan, semua orang hakikatnya bisa menulis bahkan jika terus menerus melatih diri, bia jadi penulis yang baik (habit is power). Tapi jika menciptakan penulis yang mampu meramu tulisan yang komunikasitf, disukai pasar, dan selanjutnya menciptakan kreatifitas yang mempu memotivasi dirinya untuk terus menulis, ini lain ceritanya.

Seperti apakah motivasi itu, misalnya bagaimana dia mampu mencetak hasil karyanya dengan biaya murah, menciptakan pasar, kemudian secara bertahap menciptakan penerbitan sendiri (selfpublishing) yang menguntungkan dan berkelanjutan sebagai sarana untuk mempublikasikan karyanya. Hal ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh mentor ‘copy-paste’. Memerlukan mentor yang memang berpengalaman atas semua itu.

Biaya pelatihan pun harus menjadi pertimbangan. Biaya selangit untuk target minimal, itu tidak masuk akal. Saya pernah mau dikontrak puluhan juta rupiah untuk berbicara di beberapa pertemuan, saya menolaknya. Bagi saya ‘bisnis pelatihan’ tanpa ada tanggung jawab moral itu sebuah pembodohan.

Yang saya harapkan, misalnya biaya pelatihan Rp 3 juta, itu harus menjadi jaminan bahwa peserta memang dilatih untuk mampu menghasilkan arus kas setidaknya tiga kali lipat dalam tahun pertama. Pelatihan pun tidak cukup dengan bicara saja, peserta dituntun langsung bagaimana mempraktekkan semua itu. Selanjutnya mentor bersedia menerima konsultasi jika dalam perjalannnya peserta mendapat kendala. Mentor jangan merasa cukup bicara dalam satu pertemuan, tapi memiliki tanggung jawab moral membantu hingga peserta mempu meraih cita-citanya.

Tulisan ini bukan untuk memvonis salah pelaku ‘bisnis pelatihan’, tapi berharap ada peningkatan kualitas dan tanggung jawab moral dari para pelakunya.

STOP PRESS: Silakan sebarkan artikel yang penting ini untuk diketahui rekan rekan Anda di facebook, klik disini

4 Responses to “Tertipu Pelatihan Menulis”

  1. Khazanah Intelektual

    on December 25 2011

    Memang sekarang bejibun tempat-tempat pelatihan menulis yang menamakan diri sesumbar setinggi gunung… dengan embel-embel kualitas dengan bahasa yang begitu bombastis… namun kenytaan dilapangan nol besar… menulis butuh proses tidak sekedar sim salabin mencuat langsung jadi penulis terkenal, harus melalui step by step… karena peulis sejati terlahir dari sebuah liku-liku perjuangan yang cukup panjang… menulis tidak sekedar kebetulan alias coba-coba, namun harus ditekuni dan dicintai karena dengan dua hal ini sudah tentu kita siap dengan segala kemungkinan yang bakal terjadi… salm calon penulis masa depan

    sarjoni
    Admin Quntum media press

  2. admin

    on December 27 2011

    Terima kasih Pak, insya Allah tahun 2012 saya akan menyempatkan waktu memberikan training lengkap, untuk yang siap berjuang

  3. alhuda

    on January 24 2012

    ya betul kang ‘Pelatihan Menulis’ jangan hanya sarana mengeruk uang aja,bisnis doang tapi kualitas pelatihannya diabaikan…Betul yg akang sebutkan “Pelatihan pun tidak cukup dengan bicara saja, peserta dituntun langsung bagaimana mempraktekkan semua itu. Selanjutnya mentor bersedia menerima konsultasi jika dalam perjalannnya peserta mendapat kendala. Mentor jangan merasa cukup bicara dalam satu pertemuan, tapi memiliki tanggung jawab moral membantu hingga peserta mempu meraih cita-citanya”, sukses selalu kang…mari kita ciptakan pelatihan yang berkualitas….

  4. ahmad ali

    on April 19 2013

    Pelatihan adalah awal untuk mendapatkan keterampilan yang kita perlukan, dan harus ditunjang dengan ACTION yang nyata.

Comment RSS

Silakan Beri Komentar

Name: (Required)

E-mail: (Required)

Website:

Komentar Anda Disini:


MOHON MAAF, komentar Anda akan kami tayangkan setelah kami setujui dulu.
Terima kasih.


 


LinkDock.com You found linkdock.com, so will your customers. It's a great label for your website and will help you define your identity on the Web.