Semua Posting Kategori Diary Hati category


Ada-ada saja kreatifitas orang. Kemarin saya menemukan sebuah blog wajahsatumilyar.blogspot.com. Isinya simple saja, ada wajah yang katanya layak dinilai dengan satu milyar. Yang menggelitik saya sebenarnya bukan wajah cantik yang ditampilkan diblog tersebut, namun tentang diri saya yang kadang tidak sadar begitu berharga dantak ternilai harganya. …..BACA SELENGKAPNYA… »

Untuk mengetahui orang yang tahu diri
lihatlah orang kaya yang senang memberi

Tapi untuk mengetahui orang yang bersyukur
lihatlah orang kaya yang juga bertahajud saat malam

Untuk mengetahui orang Islam …..BACA SELENGKAPNYA… »

Untuk memahami makna SATU TAHUN
Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas

Untuk memahami makna SATU BULAN
Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi prematur

Untuk memahami makna SATU MINGGU …..BACA SELENGKAPNYA… »

Seribu jadi Satu juta.
Satu juta jadi satu milyar.
Satu milyar jadi satu trilyun.
Satu trilyun jadi bangkrut.
Itulah Pengusaha.

Modalnya adalah dengkulnya.
Tak punya dengkul pun,
bisa pinjam dengkul orang lain.
Pengalaman kerjanya adalah, tak pernah melamar pekerjaan
Keberaniannya adalah optimisme
terhadap duitnya orang lain.
Itulah pengusaha.

Kemandirian adalah jiwanya.
Memulai usaha sendiri.
Mengangkat dirinya sendiri.
Sebagai direkiur di perusahaannya sendiri.
Menjual barangnya sendiri.
Tidak laku dibeli sendiri.
Itulah Pengusaha.

Perjuangan adalah hari-harinya.
Hutang adalah darahnya.
Keuntungan adalah keringatnya.
Tak berhutang hidup pun terasa hampa.
Baginya, berhutangpun tetap mulia.
Itulah pengusaha.

Hidungnya panjang.
Matanya tajam.
Senyumnya mekar.
Telinganya lebar.
Itulah Pengusaha.

(Purdi E. Chandra)

MENEMBUS MATA HATI

MENEMBUS MATA HATI

Pagi ini mentari masih misteri
terjerembab diantara pekatnya kapitalisme
padahal ingin rasanya aku menelannya kembali
agar terbakar segala keponggahan hati

Ku cari diantara awan
di dinding langit hanya ada pesan,
“Aku takkan kembali lagi”

Air mataku tumpah ruah
membanjiri lautan hati
aku membeku diantara rindu
di bawah tumpukan salju
mentari berpesan,
“Jangan mengejarku lagi”

Ku coba membalikkan bumi
semoga masih ada harapan
mentari berpesan tuk terakhir kalinya,
“Carilah penggantiku…”

Aku terhentak tak sadarkan diri
dalam kegundahan, mata hati berbisik,
“Masih banyak jalan”